Beranda

Thursday, 5 October 2017

Data Riset Prodi D.III dan D.IV Gizi


Berikut saya lampirkan data-data yang dapat Saudara gunakan untuk data penelitian Mahasiswa Prodi D.III dan D.IV Gizi.
Semoga Bermanfaat.
Terimakasih.

Silahkan Klik di bawah ini.

Download 

Sunday, 6 November 2016

“Bagar Hiu” Olahan Hasil Laut Khas Bumi Rafflesia

Dokumentasi : Bagar Hiu (Koleksi Pribadi, 2016)


Ketika mendengar kata “Hiu”, maka anggapannya adalah seekor pemangsa dan predator karnivora yang hidup di lautan lepas sehingga tidak terpikir jika hiu dapat dijadikan sebagai masakan olahan. Lebih lanjut, mungkin selama ini kita hanya mengetahui olahan hiu yaitu Sup Sirip Ikan hiu. Tapi Tahukah Anda ? Bumi Rafflesia mempunyai olahan berbahan dasar ikan hiu dan merupakan salah satu hidangan favorit Presiden Pertama, Ir. Soekarno saat beliau dalam masa pengasingan pada tahun 1938 – 1942 hingga akhirnya bertemu dengan wanita asli Bengkulu yang merupakan penjahit Sang Saka Merah Putih, Ibu Fatmawati.
Nama bagar hiu begitu populer di Bengkulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bagar memiliki arti gulai daging yang tidak bersantan. Secara visual memang olahan hasil laut ini  memang tidak terlalu menggugah selera. Tetapi jika lidah sudah menyantapnya, hanya ada istilah ketagihan untuk olahan hasil laut khas Bumi Rafflesia ini. Secara sekilas memang tampak seperti masakan rendang. Namun bedanya dbagar hiu tida menggunakan santan sehingga bagi konsumen yang menghindari Kolesterol dapat mencoba olahan hasil laut ini. Untuk membuatnya tidaklah mudah. Di bawah ini akan saya bagikan Resep dan  praktik bagaimana cara pengolahan Bagar Hiu Khas Bengkulu :

Resep Bagar Hiu
“ Bagar Hiu ”
Ø Alat
1)      Pisau                                        6)   Wajan
2)      Talenan                                    7)   Spatula
3)      Timbangan                              8)   Gelas
4)      Baskom                                   9)   Nampan
5)      Cobek                                      10) Piring Saji

ØBahan









 1)   Bahan Inti / dasar:
1)   1 Kg Daging ikan hiu
2)   1/4 Kg Cabe merah halus ( menurut selera )
3)   1 ons Cabe rawit halus
4)   Jeruk nipis (secukupnya)
2)   Bumbu:
1)         1 sdm Cengkeh
2)         1 btr Pala
3)         1 sdm Kayu manis
4)         1/2 kg Kelapa goreng
5)         1 sdm Kapulaga
6)         1 sdm Ketumbar
7)         2 ptg Asam jawa
8)         1/2 ons Jahe halus
9)         1 ons Laos halus
10)     1 sdt Kunyit halus
11)     1 ons Iris Bawang merah
12)     1 ons Iris Bawang putih
13)     1 ruas Serai

Ø Prosedur Pembuatan


Bersihkan dan sortasi daging ikan hiu.

Untuk menghilangkan bau amis pada ikan hiu, harus dibersihkan dengan jeruk nipis. Setelah itu, direbus kurang lebih 10 menit untuk mengempukkan daging ikan.


Kelapa parut yang sudah di sangria kemudian dihaluskan
Haluskan bumbu-bumbu dasar seperti laos, kunyit, kemiri, serai, ketumbar, kayu manis, jahe, asam Jawa, pala, cengkeh dan banyak lagi bumbu tambahan. Serta haluskan cabai merah.
Potong tipis bawang merah, bawang putih dan daun bawang.

Tumis bawang merah dan bawang putih sampai wangi dan masukkan kelapa parut sangrai yang sudah dihaluskan.



Masukkan daun serai yang sudah di memarkan dan daun jeruk nipis
Masukkan ikan hiu yang sudah di bersihkan, beri air secukupnya (+3 gelas) dan masak kurang lebih 15 menit hingga bumbu-bumbu meresap kedalam ikan hiu.

Bagar Ikan hiu siap disantap bersama dengan nasi putih hangat.

Berdasarkan hasil pengolahan Bagar Hiu, diperoleh jumlah kalori dengan menggunakan program Nutrisurvey dibantu dengan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) adalah 43,7 Kalori / porsi dengan berat 50 gram / porsi

Ø Porsi
Berat 1 Porsi                       : 50 gram / porsi
Energi 1 Porsi                     : 43,7 Kalori / porsi

Ø Kandungan Gizi / porsi
a)    Makro Nutrient
Protein
Lemak
Karbohidrat
8,34 gr
0,25 gr
1,75 gr

b)   Mikro Nutrient
Kalsium (Ca)
Fosfor (P)
Besi (Fe)
Vit. A
Vit. B
Vit. C
15,08 mg
89,32 mg
0,51 mg
92,8 RE
0,02 mg
5,58 mg

Protein yang tinggi pada hasil olahan Bagar Hiu (8,34 gram) menunjukkan bahwa protein pada hasil olahan bermutu lengkap dan tinggi, karena tersusun atas asam-asam amino essesnsial yang lengkap yang susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh sebagaimana fungsi dari protein itu sendiri sebagai zat pembangun dan pengatur di dalam tubuh (Muchtadi, 2010). Lebih lanjut sebagai zat pembangun, fungsinya adalah membentuk jaringan tubuh yang baru, disamping juga memelihara jaringan yang telah ada dan mengganti bagian yang aus atau rusak (Warsito, dkk, 2015). Berdasarkan AKG tahun 2012, kebutuhan Protein yang dianjurkan untuk dewasa adalah berkisar 56 - 62 gram/hari.
  
Hasil kandungan gizi di atas menunjukkan bahwa Bagar Hiu yang merupakan lauk hewani dapat dijadikan salah satu hasil olahan laut yang dapat dikonsumsi karena tinggi kandungan protein, rendah lemak dan kaya akan gizi mikro dalam setiap porsinya.Bagar Hiu, olahan hasil laut khas Bumi Rafflesia.

Sumber Data 
http://www.merdeka.com/peristiwa/di-pengasingan-bengkulu-soekarno-gemar-santap-bagar-hiu.html
http://www.duniakuliner.info/2011/08/resep-bagar-hiu.html
http://kbbi.web.id/bagar
Buku Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM)  
Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI)
Muchtadi, Deddy. 2010. Teknik Evaluasi Nilai Gizi Protein. Alfabeta : Bandung
Warsito, Rindiani, Nurdyansyah, F. 2015. Ilmu Bahan Makanan Dasar. Numed : Yogyakarta.



 

#JelajahGizi #JelajahGiziMinahasa #NutrisiUntukBangsa #Sarihusada 







Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa - See more at: http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa#sthash.FsJme1Wx.dpuf

Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa - See more at: http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa#sthash.FsJme1Wx.dpuf

Tuesday, 12 January 2016

Abstrak PAGD III tahun 2015

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR (NUTRITION CARE PROCESS) PADA PASIEN HIPOTIROID DI KLINIK BP2 GAKI MAGELANG

Sandy Ardiansyah
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu (sandy_ahligizi@ymail.com)
ABSTRAK
Iodium adalah jenis elemen mineral mikro kedua setelah besi yang penting dibutuhkan bagi kesehatan. Sumber iodium pada dasarnya disumbang secara alamiah oleh alam yaitu air dan tanah. Namun pada daerah dataran tinggi sering terjadi permasalahan defisiensi iodium. Penentuan permasalahan gangguan kekurangan iodium diawali dengan melakukan skrining neonates. Hipotiroid kongenital (HK) merupakan kelainan bawaan, yang sering ditemukan pada bayi baru lahir. Hormon tiroid esensial untuk perkembangan otak, risiko terbesar bila tidak diobati adalah gangguan kognitif dan psikomotor yang irreversible, yaitu disabilitas intelektual. Keadaan ini dapat dikenali dengan pemeriksaan kadar T4 dan Thyroid Stimulating Hormone. Studi kasus pasien hipotiroid dilakukan secara mendalam dengan penerapan proses asuhan gizi terstandar/Nutrition Care Process yang terdiri dari pengkajian/assessment, menentukan diagnosa gizi sesuai dengan masalah yang ditemukan, melakukan perencanaan intervensi dan monitoring serta evaluasi pada pasien rawat jalan di Klinik GAKI Borobudur Mageleng yang menderita hipotiroid. Penelusuran pasien hipotiroid dengan studi observasi di wilayah tinggal pasien/home visite. Hasil analisa pola konsumsi didapatkan bahwa asupan konsumsi  pasien sangat kurang untuk bahan makanan yang mengandung iodium. Lebih lanjut, hasil recall sehari menunjukkan masih berada di bawah batas kebutuhan yang dianjurkan  pada pasien untuk energi dan zat gizi makro. Oleh karena itu, penyelesaian kasus hipotiroid dengan penerapan proses asuhan gizi terstandar/NCP dapat menjadi penyelesaian masalah gizi khususnya kekurangan iodium. Anjuran pada keluarga pasien untuk tetap mengkonsumsi makanan beriodium dan perlu diperhatikan pemilihan bahan makanan yang sesuai untuk penderita hipotiroid yaitu bahan makanan yang yang tinggi Iodium dan menghindari konsumsi bahan pangan goitrogenik.

Kata Kunci : Hipotiroid, PAGT, Nutrition Care Process, T4, TSH

Sunday, 25 January 2015

PENTINGNYA AKTIVITAS FISIK DAN BERAT BADAN NORMAL



Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi diluar metabolism untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan bergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan (Almatsier, 2002).
Aktivitas fisik menjadi salah satu indikator pencapaian gizi. Intensitas aktivitas fisik secara khusus digolongkan menjadi aktivitas ringan, sedang, dan berat yang didasarkan pada jumlah usaha atau energi yang digunakan seseorang untuk melakukan aktivitas. Berikut merupakan salah satu kategori aktivitas fisik seperti disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkiraan pengeluaran energi berbagai aktivitas
No
Aktivitas
Kategori Aktivitas
1
Tidur, berbaring
Istirahat
2
Berjalan dengan kecepatan 2,5 – 3,0 mil/jam, membersihkan rumah, mengasuh anak, bekerja di restaurant, mengetik, menjahit, dan memasak
Aktivitas Ringan
3
Berjalan 3,5 – 4 mil/jam, mencangkul, membawa beban, bersepeda, bermain tenis, menari
Aktivitas Sedang
4
Berjalan dengan beban yang berat, menebang pohon, menggali, sepak bola, pekerja bangunan
Aktivitas Berat
Sumber : Durnin dan Passmore (1967) dan WHO (1985) diacu dalam Subcommitte  of the RDAs (1989)

Ada hubungan antara melakukan kegiatan fisik dengan penurunan berat badan atau mempertahankan berat badan menuju normal. Berat badan menjadi indicator dalam penentuan status gizi. Status gizi dapat diketahui dengan beberapa cara yaitu konsumsi pangan, antroponetri, biokimia, dan klinis.  Antropometri merupakan salah satu metode yang digunakan dalam melakukan penilaian status gizi secara langsung.  Pengukuran antropometri ini berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.  Berbagai parameter atau jenis ukuran tubuh yang digunakan sebagai indikator status gizi seperti umur, berat badan, tinggi badan. Antropometri menggambarkan ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi.  Gangguan keteidakseimbangan terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, dan otot (Supariasa, dkk, 2012).
Indikator yang digunakan dalam pengukuran antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT), melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan.  Menurut Arisman (2004), berat badan dan tinggi badan menggambarkan keadaan pertumbuhan.  Keadaan pertumbuhan sangat erat hubungannya dengan masalah konsumsi energi dan protein.  Lebih lanjut, berat badan erat kaitannya dengan aktivitas fisik. Orang yang rutin melakukan olahraga biasanya memiliki berat badan normal. Sebaliknya, orang yang jarang beraktivitas biasanya memiliki berat badan lebih (overweight) hingga obesitas. Setiap orang selalu menginginkan berat badan ideal atau normal. Cara nya untuk mempertahankan berat tubuh ideal adalah dengan melakukan aktivitas fisik yang cukup.
Berikut merupakan cara pengukuran status gizi melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian dikelompokkan berdasarkan status gizi sebagai berikut rumus untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) :



IMT      =         Berat badan (kg)
Tinggi Badan2 (m)

 


           
 Indeks massa tubuh (IMT) dikategorikan sesuai dengan kriteria menurut Depkes RI (2004) :
Berat badan kurang tingkat berat      : IMT<17 span="">
Berat badan kurang tingkat ringan     : IMT 17,0 – 18,4
Berat badan normal                          : IMT 18,5 – 25,0
Berat badan lebih tingkat tingan        : IMT 25,1 – 27,0
Berat badan lebih tingkat berat          : IMT > 27,0

Akhirnya dengan memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat berprinsip gizi seimbang serta dengan visualisasi tumpeng gizi seimbang merupakan salah satu upaya mencapai dan mempertahankan derajat kesehatan yang optimal.

Gambar 1. Tumpeng Gizi Seimbang


Referensi :
1. Arisman, D. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia.
3. Pedoman Gizi Seimbang 2014. Kementerian Kesehatan RI.
4. Supariasa, I.D.N., Ibnu F, dan Bachyar B. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.